• Minggu, 5 Desember 2021

Pendidikan sebagai Asas Pembebasan

- Kamis, 4 November 2021 | 20:22 WIB
Ihsan Shidqin
Ihsan Shidqin

Oleh Ihsan Shidqin / Kabid Polhuk Hima Persis Unisba

Singkatnya pendidikan adalah perbuatan mendidik dan sebelum mendidik tentunya orang tersebut harus terdidik. Sebab, pada siklus pendidikan seorang pendidik, karib disapa guru,  terdapat filosofi “digugu dan ditiru”. Karena itu, bukan sembarang orang yang bisa menjadi pendidik. Di sisi lain, karena sebab itu, di lingkungan sosialnya, guru sangat diperhatikan.

Bapak pendidikan Indonesia menyabdakan trilogi pendidikaning ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat dan dari belakang memberi dorongan. Bila kita perhatikan secara seksama setiap posisi yang strategis pendidik harus lah mengambil peran sebuah tuntutan profesionalitas tanpa batas sebab modalnya adalah sebuah kapabilitas bukan sekedar modal nekat.

Namun di negeri antah berantah yang konon katanya merupakan serpihan surga yang jatuh dari langit ini, konsep pendidikan seolah berideologi sama rata dengan pengujian final menjadi penentu dia adalah anak cerdas atau bodoh, lulus atau tidak dan berpengaruh besar pada aspek kehidupan terutama bagi prospek kerja ke depan.

Padahal apa yang diajarkan di bangunan hampa yang bernama sekolah itu semua bersifat normatif bukan final dari kehidupan sampai-sampai membunuh karakter cendekia muda yang memiliki keahlian di satu bidang yang jelas bila ditekuni kebermanfaatan akan hadir.

Di sisi lain seorang seorang pendidik pun harus bisa menerima bila masukan dari eksplorasi yang dihasilkan oleh orang-orang yang sedang berproses (guru-yang-murid) dan (murid-yang-guru) dalam artian guru tidak bisa menganggap para murid adalah sebuah gelas kosong dan bila hal itu terjadi kemanusiaan telah hilang, pembunuhan karakter pun terjadi dengan halus.

Klimaks dari sebuah pendidikan adalah rendah hati bagaikan sebuah padi yang saat dia semakin berisi maka semakin tunduk dalam artian tunduk patuh semakin dekat dengan-Nya dan rendah hati pada setiap manusia.

Konsep pendidikan yang sekarang sedang digunakan tak jauh beda bahkan sama dengan apa yang Ivan Illich sebutkan bahwa sekolah mengelompokan manusia dari segi umur dan menerima tiga premis dengan begitu saja ; anak hadir di sekolah, anak belajar di sekolah dan anak hanya bisa belajar di sekolah.

Sebuah dogma yang jelas membatasi manusia untuk melakukan mobilitas intelektual. Walau praktek lapangannya memang demikian.

Halaman:

Editor: Muhammad Mujadidi H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Pendidikan sebagai Asas Pembebasan

Kamis, 4 November 2021 | 20:22 WIB

Turbulensi APBD Jabar 2022

Rabu, 20 Oktober 2021 | 18:25 WIB

Adil Itu Ridha

Rabu, 20 Oktober 2021 | 07:10 WIB

Letih Dengan Kehidupan Dunia

Selasa, 19 Oktober 2021 | 18:29 WIB

Kekuatan Cinta

Senin, 11 Oktober 2021 | 21:59 WIB

Tragedi Tanjakan Emen dan Peristiwa Tragis Tahun 1961

Senin, 11 Oktober 2021 | 19:01 WIB

Berdamai Dengan Takdir

Kamis, 7 Oktober 2021 | 08:35 WIB

Ihfadzillah Yahfadzka

Kamis, 23 September 2021 | 11:46 WIB

Jika Tuhan Maha Kuasa, Kenapa Kita Ragu?

Kamis, 23 September 2021 | 10:02 WIB

Shortcut Dzikir

Rabu, 22 September 2021 | 11:00 WIB

Memaknai Hijrah Sebagai Ajang Julid Syar'i

Selasa, 21 September 2021 | 18:30 WIB

Wanita Madrasatul Balad

Minggu, 19 September 2021 | 18:10 WIB

Terpopuler

X