• Minggu, 5 Desember 2021

Digitalisasi Kunci Bisnis Moncer Di Era Modern

- Selasa, 21 September 2021 | 07:25 WIB
Ilustrasi bisnis (Freepik)
Ilustrasi bisnis (Freepik)



BAWAKALEM.COM -- Pepatah mengatakan data adalah minyak baru. Semua perekonomian, perusahaan besar maupun perusahaan yang lebih kecil saat ini sudah bergantung pada data untuk membuat keputusan bisnis yang lebih tepat.

Digitalisasi, data serta kecerdasan buatan (artificial intelligence) merupakan bahasa bisnis yang baru dan perusahaan - perusahaan yang bisa menjadi yang tercepat dalam menguasai bahasa ini akan mendapatkan keunnggulan kompetitif yang besar

Menurut International Institute for Analytics, pada 2020, pelaku bisnis yang menggunakan data akan meraih US$430 miliar keuntungan dalam bentuk produktivitas dibandingkan dengan para pesaingnya yang tidak menggunakan data.

Baca Juga: Wow! Dilelang Ridwan Kamil, Harga Produk UMKM Bali Ini Bernilai Rp100 Juta

Baca Juga: Ini Bocoran Jadwal BSU Subsidi Gaji Tahap 4 dan 5 Cair, Cek Status di bsu.kemnaker.go.id

Jadi bagaimana sebuah perusahaan mengimplementasikan strategi digital?

"Saran saya mengenai cara terbaik untuk melakukan digitalisasi adalah dengan memahami strategi bisnis anda dan bagaimana digitalisasi bisa membantu meningkatkan pertumbuhan bisnis," kata Director of the Center for Business Analytics, Melbourne Business School, Professor Ujwal Kayande dalam keterangannya kepada BawaKalem, Selasa (21/9/2021).

"Salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan pelaku bisnis adalah tidak memiliki strategi digital yang tertanam dalam operasional bisnis,” lanjutnya.

Professor Kayande merujuk pada sektor ritel dimana banyak pelaku ritel memisahkan toko fisik (brick and mortar) mereka dengan toko online mereka. Ini merupakan contoh paling tepat dari tidak menyatukan strategi digital ke dalam strategi bisnis secara keseluruhan.

"Strategi digital adalah menggunakan teknologi untuk membuat journey pelanggan semulus mungkin,” kata dia.

“Ini bukan tentang memiliki website yang lebih baik atau menekan biaya. Ada kebutuhan untuk fokus ke pelanggan seintens sorotan laser,” imbuhnya.

Baca Juga: Segini Perbandingan Harga iPhone 13 dan iPhone 12, Jadi Upgrade?

Baca Juga: Warganet Sindir iPhone 13 Yang Baru Dirilis Apple

Contoh lain adalah dengan memahami bagaimana digitalisasi bisa meningkatkan kualitas layanan lewat teknologi dibanding dengan manusia di berbagai sektor industri. Di Indonesia, bank, restoran, department stores bahkan rumah sakit sudah mulai menawarkan layannanya di platform online.

“Ini akan menjadi lebih dari sebatas memiliki chat bot. Anda harus jelas mengapa anda melakukannya dan apakah anda melakukannya untuk efisiensi misalnya,” tambah Professor Kayande. “Akan tetapi menekan biaya bukanlah sebuah strategi digital.”

Ia mencontohkan raksasa kosmetik L’Oreal sebagai salah satu perusahaan yang sukses memanfaatkan digitalisasi untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. Perusahaan mengakuisisi perusahaan uji coba make up berbasis AR dari Toronto - Modiface yang sebelumnya sudah bekerjasama dengan banyak pesaingnya.

Dengan mengakuisisi Modiface, L’Oreal memiliki solusi go-to untuk merek besar, memposisikan diri mereka sebagai yang terdepan dalam hal penggunaan AR di industri kecantikan dan memaksa pesaingnya untuk menggunakan solusi yang lain yang lebih sederhana.

“Aplikasi tersebut memungkinkan pelangan untuk mencoba beragam lipstick, merubah gaya rambut mereka, menggunakan maskara tanpa harus membeli produk terlebih dahulu,” kata Professor Kayande.

“Bagian terbaiknya adalah ketika wanita bisa mencoba produk-produk tersebut sebelum memutuskan untuk membeli dan hal ini membuat L’Oreal bisa mengumpulkan data yang bisa menjadi masukan terhadap produk mana yang harus digenjot,” imbuhnya.

Bagi perusahaan yang memulai journey digital mereka, ide utama yang perlu mereka pertahankan adalah bahwa digitalisasi berarti menjadi berhasil secara komersiil tidak hanya untuk satu tahun atau kuartal tertentu, tapi berhasil untuk masa depan.

“Bagian yang paling sering perusahaan mengalami salah langkah adalah mereka banyak berbicara mengenai menjadi pelaku bisnis yang lebih baik tapi yang sesungguhnya mereka harapkan adalah menjadi pelaku bisnis yang lebih murah,” kata Professor Kayande.

“Pandangan dunia saya adalah tentang melakukan bisnis yang lebih baik untuk pelanggan anda, bukan melakukan hal-hal yang lebih murah," tandasnya. ***

Editor: Jajang Saepul Hamzah

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Program Kartu Prakerja Diakui Bank Dunia

Sabtu, 20 November 2021 | 08:52 WIB

Kamis 11 November 2021, Emas Antam Naik 10 Ribu

Kamis, 11 November 2021 | 09:26 WIB

OJK Cabut Izin OFI, Dompet Digital OVO Klarifikasi

Rabu, 10 November 2021 | 10:05 WIB

Alasan OJK Mencabut Izin Usaha OVO Finance

Rabu, 10 November 2021 | 09:25 WIB

Manfaat Kartu Prakerja dan Informasi Gelombang 23

Selasa, 9 November 2021 | 19:35 WIB

Info Loker Bulan November 2021 dari Kemnaker

Senin, 8 November 2021 | 07:00 WIB

Bahlil Lahadalia Pastikan Realisasi Investasi Naik

Jumat, 29 Oktober 2021 | 08:10 WIB

Terpopuler

X