• Selasa, 19 Oktober 2021

Hypatia, Ahli Matematika Perempuan Pertama yang Dibunuh Karena Penelitian Ilmiah

- Selasa, 21 September 2021 | 13:09 WIB
Lukisan yang menggambarkan Hypatia karya Alfred Seifert dari tahun 1901. Sebagai catatan, tidak ada gambar Hipatia dari zaman kuno, dan lukisan ini merupakan hasil imajinasi senimannya. (Sumber: Wikipedia)
Lukisan yang menggambarkan Hypatia karya Alfred Seifert dari tahun 1901. Sebagai catatan, tidak ada gambar Hipatia dari zaman kuno, dan lukisan ini merupakan hasil imajinasi senimannya. (Sumber: Wikipedia)

BAWAKALEM -- Hypatia lahir sekitar tahun 355 M - 415 M, dia lahirkan dari keluarga intelektual terkhusus ayahnya sendiri yaitu Theon yang merupakan pustakawan (perpustakaan) Alexandria. Theon memerupakan seorang profesor ternama di Alexandria yang ahli bidang Ilmu Matematika dan ilmu Astronomi.

Keberhasilan ayahnya dalam mendidik Hypatia tidak lepas dari kondisi setelah ibunya meninggal, dimana kemudian ayahnya menjadi sangat fokus memperhatikan perkembangan pendidikan anaknya.

Atas perhatian dan pendidikan ayahnya, bahkan kemudian Hypatia secara keahlian melebih ayahnya sendiri, dimana selain menjadi ilmuwan, dia juga adalah pendidik yang sangat di hormati di Alexandria, dia juga seorang yang ahli dalam bidang filsafat, matematika, ilmu pengetahuan alam, sastra dan seni.

Buah dari pendidikan ayahnya dan kepandaian yang dimiliki oleh Hypatia sendiri, kemudian dia diangkat menjadi profesor di universitas yang sama dengan ayahnya. Dimana setiap perkuliahan yang dia sampaikan, akan banyak dipenuhi oleh orang yang sangat antusias mendengarkan dia menyampaikan ilmu nya. Bahkan selain dari Alexandria, banyak dari luar kota itu berbondong-bondong untuk masuk universitas agar bisa mendapatkan pembelajaran matematika dan filsafat dari Hypatia.

Dalam catatan sejarah menyebutkan, sebetulnya informasi tentang kehidupan dan karier Hypatia banyak didapatkan dari surat-surat yang dia tuliskan kepada muridnya yaitu Synesius dari Cyrene, di Yunani yang pada 411 menjadi Uskup Ptolemais.

Baca Juga: Persis Desak Polisi Usut Tuntas Penembakan Ustaz di Tangerang

Dalam salah satu catatannya Hypatia mengusulkan agar muridnya itu melakukan penelitian mengenai posisi bintang-bintang, dan mengukurnya dengan posisi bumi. Synesius juga diajarkan cara menghitung posisi planet dengan menggunakan sebuah astrolabe dan planisphere, alat yang telah ia rancang.

Dalam bukunya yang berjudul Penghancuran Buku dari Masa ke Masa Fernando Baez menulis “Hypatia adalah perempuan pertama dalam sejarah yang dibunuh karena penelitian ilmiah." Dalam buku itu disebutkan beberapa karya Hypatia seperti Tanggapan atas Aritmatika Diofantus, Tanggapan atas Konik Apollonius, dan sebuah edisi dari buku ketiga naskah yang ditulis ayahnya untuk menjelaskan Almagest Ptolomeus. “Sayangnya hanya sedikit dari tulisan-tulisan tersebut yang masih ada, karena karya-karyanya habis dimusnahkan.” kata Baez.

Pada tahun 415 Masehi, para biarawan-biarawan fanatik dipimpin oleh Petrus, seorang murid dari Cirilius yang seorang uskup di Alexandria kemudian mengkap Hypatia ketika dia sedang memberikan kuliah pada murid-muridnya, dengan tuduhan dia adalah seorang penyihir dengan sadis kejam dia ditangkap oleh mereka.

Halaman:

Editor: Muhammad Mujadidi H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Biografi Intelektual Ibnu Rusyd

Senin, 27 September 2021 | 17:36 WIB

Mengenal Filsuf Bekebangsaan Italia: Antonio Gramsci

Kamis, 23 September 2021 | 20:02 WIB

H.O.S Tjokroaminoto, Guru Bangsa Terhebat di Indonesia

Minggu, 19 September 2021 | 14:46 WIB

Belajar Bisnis Dari Bob Sadino

Rabu, 15 September 2021 | 13:32 WIB

Al-Kindi, Bapak Filsafat Dunia Islam

Selasa, 14 September 2021 | 20:45 WIB

Terpopuler

X