• Selasa, 19 Oktober 2021

Mengenal Filsuf Bekebangsaan Italia: Antonio Gramsci

- Kamis, 23 September 2021 | 20:02 WIB
Antonio Gramsci/sumber: Wikipedia
Antonio Gramsci/sumber: Wikipedia

BAWAKALEM -- Intelektual Organik & Intelektual Tradisional adalah ide filosofis yang berkembang di abad ke-20. Ya, ide ini digagas oleh sosok pria yang memiliki cacat pada bagian tulang belakangnya, ialah Antonio Gramsci.

Seorang filsuf yang lahir di kota Ales, benua Sardinia, Italia. Lahir pada 22 Januari 1891 dan meninggal pada 27 April 1937. Artinya, ia meninggal pada usia 46 tahun. Dan pada tahun 1911, Gramsci meninggalkan Sardinia untuk belajar di Universitas Turin di Italia utara.

Gramsci merupakan sosok kritikus yang beraliran marxisme. Pada era Mussolini, Gramsci kerap melakukan kritik-kritik tajam terhadap pemerintahan fasis dibawah kepemimpinan Mussolini tersebut.

Dia bergabung dengan Partai Sosialis Italia pada tahun 1913. Gramsci tidak menyelesaikan pendidikan formal, tetapi dilatih di Universitas sebagai Marxis Hegel, dan mempelajari secara intensif interpretasi teori Karl Marx sebagai "Filsafat Praksis" di bawah Antonio Labriola. Pendekatan Marxis ini berfokus pada pengembangan kesadaran kelas dan pembebasan kelas pekerja melalui proses perjuangan. Oleh karena itu, karyanya hendak menitikberatkan kritik terhadap budaya dan politik. Ide monumentalnya ialah tentang Hegemoni. Ia menembak bagian terpenting dari sistem kapitalisme ialah dominasi budaya.

Baca Juga: Greysia Polii dan Apriyani Rahayu Mengaku Bonus yang Didapat Usai Bawa Emas di Olimpiade Tokyo Ditabung

Gramsci pergi ke Wina pada tahun 1923, di mana ia bertemu dengan Georg Lukács, seorang pemikir Marxis Hungaria terkemuka, dan para intelektual dan aktivis Marxis dan komunis lainnya yang akan membentuk karya intelektualnya. Pada tahun 1926, Gramsci, yang saat itu menjadi kepala Partai Komunis Italia, dipenjarakan di Roma oleh rezim fasis Benito Mussolini selama kampanye agresifnya untuk membasmi politik oposisi.

Pemikiran Gramsci dianggap berbahaya oleh rezim karena Gramsci memandang negara sebagai alat dominasi yang mewakili kepentingan modal dan kelas penguasa. Dia mengembangkan konsep hegemoni budaya untuk menjelaskan bagaimana negara menyelesaikan ini, dengan alasan bahwa dominasi dicapai sebagian besar oleh ideologi dominan yang diekspresikan melalui institusi sosial yang mensosialisasikan orang untuk menyetujui aturan kelompok dominan. Dia beralasan bahwa keyakinan hegemonik atau keyakinan dominan akan meredam pemikiran kritis, dan dengan demikian menghambat revolusi.

Baca Juga: Ridwan Kamil Raih Penghargaan Gubernur Terpopuler di Media Digital

Ia menulis lebih dari 30 buku catatan dan 3000 halaman sejarah dan analisis selama di penjara. Tulisan-tulisan ini yang kemudian dikenal luas sebagai Buku Catatan Penjara atau Prison Notebooks. Sebuah karya yang monumental, yang ia lahirkan dibalik jeruji besi. Prison Notebooks berisi tentang penelusuran Gramsci terhadap sejarah dan nasionalisme Italia, pemikiran mengenai teori Marxis, teori kritis dan teori pendidikan.

Halaman:

Editor: Muhammad Mujadidi H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Biografi Intelektual Ibnu Rusyd

Senin, 27 September 2021 | 17:36 WIB

Mengenal Filsuf Bekebangsaan Italia: Antonio Gramsci

Kamis, 23 September 2021 | 20:02 WIB

H.O.S Tjokroaminoto, Guru Bangsa Terhebat di Indonesia

Minggu, 19 September 2021 | 14:46 WIB

Belajar Bisnis Dari Bob Sadino

Rabu, 15 September 2021 | 13:32 WIB

Al-Kindi, Bapak Filsafat Dunia Islam

Selasa, 14 September 2021 | 20:45 WIB

Terpopuler

X