• Minggu, 5 Desember 2021

Biografi Pemikiran Ibnu Miskawaih Part 1

- Kamis, 4 November 2021 | 20:10 WIB
Ibnu Miskawaih. (Iqra.id)
Ibnu Miskawaih. (Iqra.id)

Oleh: Moch Ardia Putra

Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’qub Ibnu Miskawaih. Ia lahir di Kota Ray (Iran) pada 320 H (932 M) dan wafat di Asfahan pada 9 safar 421 H (16 Februari 1030 M). Ia belajar sejarah kepada Abu Bakar Ahmad Ibn Kamil al-Qadhi (350/960) tentang buku Tarikh al-Thabari, dan belajar filsafat kepada Ibn al-khammar, seorang komentator terkenal mengenai filsafat Aristoteles.

Perihal kemajusiannya, sebelum Islam, banyak dipersoalkan oleh pengarang, Jurji Zaidan. Misalnya ada pendapat bahwa ia adalaha Majusi, lalu memeluk Islam. Sedangkan Yakut dan pengarang Dairah al-Ma’arif al-Islamiyyah kurang setuju dengan pendapat itu. Menurut mereka, neneknyalah yang Majusi, kemudian memeluk Islam. Artinya Ibnu Miskawaih sendiri lahir dalam keluarga Islam, sebagai terlihat dari nama bapaknya, Muhammad.

Ibnu Miskawaih juga diduga beraliran Syi’ah, karena sebagai besar usianya dihabiskan untuk mengabdi kepada pemerintah Dinasti Buwaihi. Ketika muda, ia mengabdi kepada Al-Muhallabi, wazirnya pangeran Buwaihi yang bernama Mu’iz al-Daulah di
Bagdad. Setelah wafatnya Al-Muhallabi pada 352 H (963 M), dia diterima oleh Ibn al-Amid, wazirnya saudara Mu’iz al- Daulah yang bernama Rukn al-Daulah yang berkedudukan di Ray.

Ibn al-Amid sendiri adalah seorang yang amat pandai dan tokoh sastra terkemuka. Selama tujuh tahun mengabdi sebagai pustakawan (khazin, yaitu penjaga perpustakaan besar yang menyimpan banyak rahasia) Ibn al-‘Amid, dia dapat menuntut ilmu, dapat memperoleh banyak hal positif berkat bergaul dengan pangeran ini,dan mendapat kedudukan berpengaruh di ibukota provinsi Buwaihi itu.

Setelah Ibn al-Amid wafat pada 360 H (970 M), Ibnu Miskawaih tetep mengabdi kepada putranya yang bernama Abu al-Fath yang menggantikan Ibn al-Amid sebagai wazinya Rukn al-Daulah dan yang juga terkenal pintar dalam bidang sastra.

Al-Shahib Ibn ‘Abbad. Lalu Miskawaih meninggalkan Ray menuju Baghdad dan mengabdi kepada istana pangeran Buwaihi, ‘adhud al-Daulah. Miskawaih mengabdi kepada pangeran ini sebagai bendaharawan dan juga memegang jabatan-jabatan lain.

Setelah pangeran ini wafat pada 372 H (983 M), Miskawaih tetap mengabdi kepada para pengganti pangeran ini, Shamsham al-Daulah (388 H/998 M), dan Baha’ al-Daulah (403/1012 M) dan naik selama priode Baha’ al-Daulah ke posisi yang amat prestisius dan berpengaruh. Dia mencurahkan tahun-tahun terakhir dari hidupnya untuk studi dan menulis.

Kendatipun disiplin ilmuanya meliputi kedokteran, bahasa, sejarah, dan filsafat, tetapi ia lebih popular sebagai filsuf akhlak (al-Falsafah al-Amaliyyah), ketimbang sebagai filsuf ketuhanan (al-Falsafah al-Nazhariyyah al-Ilahiyyah). Agaknya ini dimotivasi
oleh situasi masyarakat yang kacau di masyarakat, sebagai akibat minuman keras, perzinahan, hidup glomour, dan lain-lain.

Halaman:

Editor: Muhammad Mujadidi H

Tags

Artikel Terkait

Terkini

27 Tahun Berkarir, Ismail Marzuki Ciptakan 250 Lagu

Rabu, 10 November 2021 | 09:40 WIB

Biografi pemikiran Ibnu Miskawaih (Part 3)

Senin, 8 November 2021 | 11:45 WIB

Biografi pemikiran Ibnu Miskawaih (Part.2)

Minggu, 7 November 2021 | 19:31 WIB

Biografi Pemikiran Ibnu Miskawaih Part 1

Kamis, 4 November 2021 | 20:10 WIB

H.M. Rasjidi, Menteri Agama Pertama RI

Selasa, 26 Oktober 2021 | 09:27 WIB

Biografi Intelektual Ibnu Rusyd

Senin, 27 September 2021 | 17:36 WIB

Mengenal Filsuf Bekebangsaan Italia: Antonio Gramsci

Kamis, 23 September 2021 | 20:02 WIB

H.O.S Tjokroaminoto, Guru Bangsa Terhebat di Indonesia

Minggu, 19 September 2021 | 14:46 WIB

Belajar Bisnis Dari Bob Sadino

Rabu, 15 September 2021 | 13:32 WIB

Al-Kindi, Bapak Filsafat Dunia Islam

Selasa, 14 September 2021 | 20:45 WIB

Terpopuler

X