• Sabtu, 27 November 2021

Biografi pemikiran Ibnu Miskawaih (Part 3)

- Senin, 8 November 2021 | 11:45 WIB
Ibnu Miskawaih. (Iqra.id)
Ibnu Miskawaih. (Iqra.id)

BAWAKALEM -- Sama dengan para tokoh Islam yang lain, pemikiran Ibn Misakawaih juga sangat bermanfaat untuk manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Diantara pemikiran beliau adalah: Metafisika.

a. Ketuhanan

Tuhan menurut Ibn Miskawaih adalah zat yang tidak berjisim, Azali, dan pencipta. Tuhan esa dalam segala aspek. Ia tidak terbagi-bagi dan tidak mengandung kejamakan dan tidak satu pun yang setara dengan-Nya. Ada tanpa diadakan dan ada Nya tidak bergantung kepada yang lain. Sementara yang lain membutuhkan-Nya. Kalau dilihat sekilas pemikiran Ibn Miskawaih ini sama dengan pemikiran Al-kindi.Hal ini tampak bahwa Tuhan menurut Ibn Miskawaih adalah zat yang tidak berjasim, azali dan pencipta.

Tuhan Esa adalah segala aspek. Tuhan tidak berbagi-bagi karena tidak mengandung kejamakan dan tidak satu pun yang setara dengan-Nya. Tuhan ada tanpa diadakan, dan ada-Nya tidak tergantung kepada yang lain, sedangkan yang lain membutuhkan-Nya.

Untuk membuktikan adaya Tuhan, Ibn Miskawaih tidak memungut pemikiran Aristoteles sebagai dilakukan oleh filsuf sebelumnya. Tuhan menurutnya adalah penggerak pertama yang tidak bergerak dan pencipta yang tidak berubah-ubah karena itu. Tuhan yang secara mutlak bebas dari materi, secara mutlak tidak berubah, dan kebebasan sempurna Tuhan dari materialitaslah yang membuat kita tidak mungkin menggambarkan-Nya dengan istilah apa pun, kecuali dengan simbol penegatifan.

Baca Juga: Biografi Pemikiran Ibnu Miskawaih Part 1

Tuhan dapat dikenal dengan proposisi negatif, dan tidak bisa dikenal dengan proposisi positif, karena melakukan proposisi positif berarti menyamakan Tuhan dengan alam. Tuhan, bagi Ibn Miskawaih adalah zat yang jelas dan zat yang tidak jelas. Dikatakan zat yang jelas karena Tuhan adalah yang haq (benar) berarti terang.

Menurut Ibn Miskawaih, entitas pertama yang mancar dari Tuhan ialah “Aql Fa’al (Akal Aktif). Akal Aktif ini tanpa perantara sesuatu pun. Kekal, sempurna, dan berubah. Dari Akal Aktif ini timbul jiwa dan dengan perantaraan jiwa pula timbul planet (al-falak). Pancaran yang terus-menerus dan tuhan dapat memelihara tatanan di alam ini, ini sekiranya pancaran Tuhan dimaksud terhenti, maka berakhirlah kemaujudan dan kehidupan di alam ini.

b. Kenabian

Halaman:

Editor: Didit Nurdianto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

27 Tahun Berkarir, Ismail Marzuki Ciptakan 250 Lagu

Rabu, 10 November 2021 | 09:40 WIB

Biografi pemikiran Ibnu Miskawaih (Part 3)

Senin, 8 November 2021 | 11:45 WIB

Biografi pemikiran Ibnu Miskawaih (Part.2)

Minggu, 7 November 2021 | 19:31 WIB

Biografi Pemikiran Ibnu Miskawaih Part 1

Kamis, 4 November 2021 | 20:10 WIB

H.M. Rasjidi, Menteri Agama Pertama RI

Selasa, 26 Oktober 2021 | 09:27 WIB

Biografi Intelektual Ibnu Rusyd

Senin, 27 September 2021 | 17:36 WIB

Mengenal Filsuf Bekebangsaan Italia: Antonio Gramsci

Kamis, 23 September 2021 | 20:02 WIB

H.O.S Tjokroaminoto, Guru Bangsa Terhebat di Indonesia

Minggu, 19 September 2021 | 14:46 WIB

Belajar Bisnis Dari Bob Sadino

Rabu, 15 September 2021 | 13:32 WIB

Al-Kindi, Bapak Filsafat Dunia Islam

Selasa, 14 September 2021 | 20:45 WIB

Terpopuler

X